Kami Memperkenalkan OKNEWS : Berita dari Negeri Ok

 

NAMANYA OKNEWS. Dibentuk dari dua kata, berasal dari bahasa yang berbeda : Ok dan News. Yang satu mengalir dari bahasa Ngalum artinya air atau ok (baca ok bukan oke) dan yang lainnya berasal dari bahasa Inggris berarti berita (news). Jadilah OKNEWS, penggabungan dua kata yang berbeda pengertian namun mengandung multi makna sesuai akar dan asal katanya. Ketika membaca namanya, muncul pertanyaan kenapa disebut OkNews dan apa artinya ?  Setiap kita pasti akan membaca oke kalau ada tulisan OK. Itu sangat benar karena semua orang sudah mengakui, sepakat dan menerimanya secara bersama, baik istilahnya maupun pengertiannya.

Namun kata OK (baca ok bukan oke) bagi orang Ngalum di Pegunungan Bintang maupun bagi suku-suku bangsa yang menyebar ke wilayah selatan (suku Muyu-Mandobo di Boven Digul) dan ke timur di Papua New Guinea (PNG), kata Ok (baca ok) artinya Air. Jadi OkNews mengandung pengertian berita dari negeri ok.Karena itu, setiap kata Ok yang dimuat di media ini mengandung pengertian atau berasosiasi kepada air, sehingga dibaca bukan oke tetapi dibaca sesuai pengucapannya yakni ok, baik berfungsi sebagai awalan maupun tidak, seperti sebutan untuk nama tempat atau sungai Oksibil, Oksop, Okbi, Oklip, Okbab, dll.

 

Manusia Ok

Suku Ngalum dan Suku Ketengban merupakan dua suku bangsa yang hidup di  dataran tinggi Pegunungan Bintang. Selain itu ada beberapa sub-suku yang hidup di daerah ini, seperti Murop di dataran rendah selatan dan Omkai serta Lepki di dataran rendah utara. Istilah Ok (dibaca ok, bukan oke) artinya air berasal dari bahasa Ngalum. Istilah ini sama artinya dengan kata Me atau Mek dari bahasa Ketengban.

Dalam suatu interpretasi dari penelitian para ahli antropologi disebutkan bahwa suku bangsa Ngalum dan Ketengban  adalah  manusia pencari air karena selalu memilih tempat tinggalnya berdasarkan lokasi-lokasi yang dipercaya dekat dengan air, tempat adanya mata air, di pinggiran aliran sungi dan tempat-tempat yang mudah  untuk mendapatkan air.

Pernyataan tersebut didasari atas penyebutan nama tempat tinggalnya yang selalu diawali dengan Ok atau akhiran Me/Mek, misalnya Oksop, Okbi, Okyip, Oknangul, Bime, Kirime, Borme, Kameme, Tanime, Weime, Nongme, Eipomek, Pamek, dsb. Atas dasar ini beberapa ahli antropologi mengelompokannya sebagai suku bangsa Ok atau Me/Mek.  Kedua suku bangsa ini terdapat di poros tengah pulau Papua yang terbentang dari Sorong di ujung barat sampai di  Samarai, di ujung timur wilayah Papua New Guinea.

Pembagian wilayah manusia  Ok atau Me/Mek, dapat merujuk pada penelitian Healey (1964), Wurm (1982) dan Pawley (2005). Ok Family atau keluarga besar Ok terbagi dalam tiga wilayah yaitu (1) Mountain Ok Branch, umumnya berada di wilayah Papua New Guinea PNG), yakni Bimin, Setaman, Faiwol, Telefomin, Uropmin, Tifalmin, Mianmin, Atbalmin, Fefolmin, dan Oksapmin.  (2) Lowland Ok Branch, yakni Iwur, Yonggom, North Muyu, South Muyu dan Ningrum, dan (3)  Ngalum Branch, yakni Ngalum Ok.  Sedangkan suku Me/Mek, menurut Stephen Wurm (1975) dan Malcolm Ross (2005) mengelompokan berdasarkan bahasa dan dialeknya sebagai berikut; (1) Eastern Ketengban, yakni Bame, Omban, Bime, Ony, Una (Goliath), dan Eipomek. (2) Northern : Kosarek dan Yali, yakni Nipsan dan Nalca. (3)  Western: Korupun dan Sela, yakni Dagi, Sisibna dan Deibula.

Pengelompokan suku bangsa  Ok atau Me/Mek oleh para ahli antropologi  hingga saat ini belum menyentuh pada filosofi dasar, karena konsentrasi pengkajiannya lebih tertuju di bidang linguistik (bahasa) dan etnografi (etnis). Untuk itu penyebutan sebagai manusia Ok atau Me/Mek perlu direkonstruksi ulang dengan pendekatan falsafah hidup suku-suku bangsa di Pegunungan Bintang.

 

Makna filosofis

Bagi suku bangsa Ngalum dan Ketengban, juga sub-suku bangsa lainnya di Pegunungan Bintang, ok atau me/mek memiliki makna multi dimensi. Ketika orang menyebut atau berpikir tentang air maka pemahaman dan pengertiannya akan bermakna multi tafsir dan berdimensi filosofis, theologies, ekologis dan ekonomis.  Karena demikian maka manusia Ngalum dan Ketengban selalu mengintegrasikan air dengan komponen hidup utama lainnya yakni tanah, tanaman, alam dan ternak dengan menyebutnya Ok, Mong, Nal dan Mangol atau air, tanaman, alam, ternak dan tanah.

Menurut penelitian Apolonaris Urpon (2008), air selalu dimaknai sebagai sumber kesuburan dan kehidupan dengan menyebutnya sebagai Muk, artinya susu kehidupan dan Ok melambangkan identitas diri suatu klen dan memandangnya sebagai simbol adanya hakekat kehidupan itu sendiri karena ok mendatangkan dan menciptakan kehidupan yang hakiki yakni kesuburan hidup bagi manusia, tumbuhan, tanaman dan ternak serta menciptakan pembaharuan, kesejukan, perdamaian, keselamatan, kesucian, ketenangan, ketabahan, ketentraman, kedewasaan dan nilai-nilai hidup lainnya. 

Kata Ok atau Me/Mek sering digunakan dalam bentuk bahasa kiasan untuk menunjuk atau menyebut sumber kehidupan. Dalam bentuk fisik dilambangkan dengan simbol gemuk babi dan perempuan sebagai awal proses kehidupan bagi seorang manusia, artinya manusia dibentuk oleh Atangki (Allah) dalam rahim perempuan dan dilahirkan ke dunia untuk mencari kehidupan sejati. Upaya pencariannya tercermin dari bahasa pertama  yang diungkapkan oleh seorang bayi yakni ”Ok/Me”, artinya ia meminta air sebagai sumber baginya untuk menjalani kehidupan ini. Kemudian pada detik-detik terakhir hidupnya sebelum menghadap sang Ilahi, manusia Aplim Apom selalu meminta Ok (air), artinya meminta jalan menuju kehidupan kekal. Sama halnya dengan ajaran Kristiani,  ketika Yesus disalibkan, pada detik-detik terakhir hidupNYA di dunia ini, IA meminta air.

Hubungan air dengan media jurnalistik

Penamaan OkNews  untuk media ini memiliki makna filosofi yang mendalam. Pertama, air selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.  Sifat air yang demikian mengantarkan humus kesuburan dan kehidupan bagi makhluk hidup yang ada di bawahnya dianalogikan dengan berita, data dan informasi yang disajikan oleh suatu media jurnalistik dapat menembus batas-batas ruang dan waktu serta mencerahkan dan memberdayakan orang dari berbagai kalangan, kelas sosial dan latarbelakang kehidupan. Seperti sifat air yang tidak pernah membedakan letak geografis, jenis dan bentuk ruang, volume dan kapasitas tampung suatu wadah, dll. Demikian halnya dengan kehadiran media OkNews sebagai pemimpin untuk melayani kebutuhan informasi dan pengetahuan dari masyarakat, sekaligus berfungsi menciptakan ruang pencerahan dan pemberdayaan bagi semua kalangan. Kedua, air selalu mencari, menuju dan mengisi ruang-ruang yang kosong. Manusia yang baik, berbudi dan berkepribadian adalah manusia yang berusaha mengisi kekosongan hati dan hasil pemikiran dari manusia lainnya. Dengan meniru sifat air, OkNews berupaya hadir, berbagi, dan mengisi kekurangan, kekosongan dan ketiadaan informasi dan pengetahuan khususnya bagi masyarakat Pegunungan Bintang. Ketiga, air selalu mengalir ke muara. Tak peduli seberapa lama dan seberapa jauh jaraknya dari muara, air pasti akan tiba di sana. Hal utama yang diteladani dari perjalanannya adalah sikapnya yang konsisten. Ada aneka ragam hambatan yang dilalui air untuk mencapai muara, mungkin akan bergabung ke sungai, terhalang pohon dan batu,  mungkin tertampung sesaat di kolam, di telaga atau di danau, bisa saja masuk ke selokan atau ke dalam tanah, tapi akhirnya air tetap mengalir dan tiba di muara.

Sama halnya dengn visi utama terbitnya majalah ini, meskipun banyak hambatan dan rintangan yang menghadang, OkNews hadir dan terus akan ada untuk menghidupkan manusia di negeri Ok dari keterisolasian informasi dan pengetahuan agar ruang-ruang kosong otak dan hati manusianya diisi, dibangkitkan, dicerahkan dan diberdayakan guna mewujudkan eksistensi dirinya. Selamat menyantap hidangan berita, informasi dan pengetahuan yang kami sajikn ini. (Melkior Sitokdana, Frans Ningmabin & Fredy Nalsa)