Air Terjun Ok Merum, Cantik tapi Misterius

Oleh Muchtar Abdu Kholiq*

 

Mungkin tidak banyak orang yang belum mengetahui keberadaan air terjun Ok merum. Tetapi bagi pendaki dan pemburu air terjun, saya rasa tempat ini perlu masuk dalam daftar destinasinya. Air Terjun Ok Merum adalah Air terjun yang berada di belantara Hutan di desa Okatem. Air Terjun Okmerum memiliki 4 titik Air Terjun, dengan ketinggian yang berbeda. Airnya mengalir di Sungai Okmerum, kita akan merasakan betapadingin airnya ketika kaki kita tercebur didalamnya. Selain itu, kita juga bisa meminum airnya tanpa takut sakit perut, karena airnya sangat bersih dan bebas dari populasi. Kita bisa merasakan betapa segarnya air pegunungan. Air terjun ini bisa dijadikan sebagai penghilang  terutama untuk masyrakat yang tinggal dan bekerja  di kabupaten pedalaman, seperti kabupaten pegunungan bintang. Air terjun ini juga sangat bagus untuk menjadi obyek foto para fotografer landscape fotografi

Air Tejun Ok Merum berada didalam hutan yang mengelilingi desa Okatem, distrik Serambakon, kabupaten Pegunungan  Bintang. Air Terjun ini masih sangat alami, belum tersentuh dan terekspose media. Hal ini dikarenakan lokasinya yang sangat tersembunyi. Dari ibu kota kabupaten Pegunungan Bintang, Oksibil kita bisa menggunakan ojek atau mobil angkutan umum ke desa Yapimakot, distrik Serambakon.

Biaya ojek oksibil-serambakon sekitar Rp40.000,- sedangkan  biaya untuk mobil angkutan umum yaitu Rp.20.000. Kemudian dari desa Yapimakot kita harus berjalan kaki menuju desa okatem melawati desa modusit selama 1,5 jam, mengikuti jalan setapak, kondisi jalannya pun sudah cukup baik. Tantangan pertama dalam perjalanan ini, adalah tanjakan cinta menuju desa modusit. Setelah bisa menaklukkan tanjakan cinta, maka perjalanan menuju desa okatem jauh lebih mudah. Kita tidak perlu khawatir tentang keamanan selama perjalananSetelah tiba sampai di desa Okatem, pertama yang harus dilakukan adalah mencari penunjuk jalan menuju air terjun, dan meminta ijin kepada kepala suku setempat. Karena mitos yang berkembang di masyarakat desa adalah jika kita memoto air terjun pertama dari air terjun ini, maka akan ada musibah di masyarakat desa dan diri kita sendiri. Jika diijinkan maka, perjalanan menuju air tejun ini bisa dilanjutkan. 

Dari desa okatem, kita harus berjalan menuju hutan, jalan setapak, licin, berlumpur, berlumut harus kita lalui, sehingga perlu ekstra hati-hati, kemudian kita berjalan menyisir sungai Okmerum untuk menuju air terjun pertama. Waktu tempuh untuk menuju air terjun ini adalah 4 jam dengan berjalan kaki pulang pergi. Oleh karenanya diperlukan kondisi badan yang fit untuk melakukan pendakian ke air terjun ini. Meskipun demikian , lelah kita akan terbayarkan sesampai di air terjun okmerum pertama.

Dari air tejun pertama, kita berjalan ke atas menuju air terjun ke 2, butuh sekitar 3 menit untuk mencapai air terjun kedua. Air terjun kedua memiliki bentuk dan ketinggian yang berbeda dengan air terjun pertama,. Jika dirasakan masih memiliki tenaga maka perjalanan bisa dilanjutkan ke air terjun ketiga dan keempat. Air Terjun ketiga miliki debit air yang lebih kecil. Untuk menunju air terjun keempat, kita harus menaruh tas dan bawaan kita di bawah. Karena kita harus mendaki, di air terjun keempat inilah mitos berkembang, yaitu tuan tanah(nenek moyang) masyarakat desa ada di air terjun ini dan menjaga air terjun ini. Sehingga kita hanya bisa menikmat keindahannya, dari atas tebing dan dilarang foto. Meskipun dilarang, saya tetap mengabadikan keindahannya. Rute pulang pun berbeda dengan rute berangkat, kita tidak akan berjalan di sepejang sungai okmerum, tetapi mendaki menuju puncak gunung, sesampai puncak gunung , kita akan melihat kota oksibil.

Jika anda hendak bermalam di desa Okatem, maka anda bisa menumpang di rumah kepala desa atau guru yang di desa tersebut karena memang tidak ada penginapan di desa ini.Saran saya untuk pemerintah setempat adalah buka jalan untuk menuju air terjun ini dan meberikan fasilitas , maka air terjun ini bisa digunakan sebagai salah satu sumber PAD untuk desa okatem dan kabupaten Pegunungan Bintang.

 

Penulis Adalah Kasie Distribusi BPS Kabupaten  Pegunungan Bintang