Menembus Kabut, Mengintip Potensi Ekonomi Pegunungan Bintang

Transportasi udara dengan biaya angkutan yang cukup tinggi menyebabkan harga barang kebutuhan pokok dan bahan bangunan menjadi mahal. Tapi daerah ini punya potensi sumber daya alam yang tumpah ruah. Jumlah barang masuk lebih tinggi sementara hasil alam yang keluar, nyaris tak ada.

 

PAGI itu, Kamis, 2 April lalu, cuaca di Bandara Sentani, Jayapura, cukup cerah. Saya dan dua teman dari OkNews, Frans Kasipmabin dan Fredy Nalsa harus terbang ke  Oksibil, Ibukota Kabupaten Pegunungan Bintang dengan menggunakan pesawat Trigana Air Sevice.

Pukul 09.45 Waktu Papua (WP), pesawat Trigana Air Service yang membawa kami (16 penumpang), lepas landasan Sentani. Tak ada rintangan yang berarti. Pilot Trigana yang sudah malang melintang di kawasan Pegunungan Papua itu, membawa kami masuk-keluar menembus kabut. Dan, nampak terlihat dari celah-celah kabut itu, kami melewati sungai-sungai besar, hamparan dataran yang luas serta gunung-gunung yang menjulang tinggi.

Sesudah 45 menit perjalanan, tampak sebuah kota di rimba raya. Pramugari pun memberitahukan, 2 menit lagi kami akan tiba di Bandara Oksibil.

Pukul 10.30 WP, kami tiba di Oksibil. Setelah bergegas mengambil barang, kami keluar dari airport, nampak sebuah gapura yang di bagian atasnya, terpampang patung Tuhan Yesus dan bagian bawahnya terterah tulisan : Terip Tibo Semo Nirya (Mari Bangkit Membangun Bersama), itulah motto pembangunan yang digagas bersama masyarakat dan pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang sejak mulai digulirnya pembangunan di negeri Aplim Apom ini 12 tahun silam.

Kabupaten ini adalah satu-satunya kabupaten di kawasan Pegunungan Papua yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Papua New Guinea (PNG).

Kabupaten ini dimekarkan dari Kabupaten Jayawijaya berdasarkan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2002 bersama 13 kabupaten lainnya di Provinsi Papua.

Kondisi geografis kabupaten ini sangat khas, yaitu sebagian besar wilayahnya pegunungan dan penduduknya bermukim di lereng gunung yang terjal dan lembah-lembah kecil dalam kelompok-kelompok kecil yang terpencar dan terisolir.

Hamparan dataran rendah terdapat di bagian utara dan selatan dengan tingkat aksesibilitas wilayah yang sangat rendah, sehingga relatif sulit dijangkau. Seluruh pelayanan di wilayah ini hanya dilakukan dengan transportasi udara dengan menggunakan pesawat kecil jenis Cessna, Pilatus, Twin Otter, Caravan, dan ATR.  Itupun sangat tergantung pada kondisi cuaca karena perubahan cuaca di daerah ini tidak dapat diprediksi secara pasti.

Keterbatasan transportasi udara dengan biaya angkutan yang cukup tinggi menyebabkan harga barang kebutuhan pokok dan bahan bangunan menjadi sangat mahal, sehingga tidak terjangkau oleh daya beli masyarakat. Tingginya tingkat kemahalan harga barang juga disebabkan karena hampir semua barang kebutuhan pokok dan bahan bangunan didatangkan dari Jayapura menggunakan transportasi udara dengan biaya angkutan barang dan manusia yang sangat mahal.

Menurut data yang dinukil dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pegunungan Bintang, bahwa kabupaten ini mimiliki sumber daya alam yang berlimpah, seperti emas, tembaga, nikel, uranium, kayu, rotan, hasil bumi (umbi-umbian, sayur-sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan) dan tanaman jangka panjang seperti kopi arabika.

Bercocok tanam adalah kegiatan utama pemilik Negeri Aplim Apom dari dua suku besar yaitu Suku Ngalum dan Ketengban. Sama dengan suku-suku lain di kawasan Pegunungan Papua, sebagian besar pemilik Negeri Aplim Apom ini hidup di dataran tinggi dan mengkonsumsi keladi, ubi dan singkong. Sagu dikonsumsi masyarkat yang hidup di daerah dataran rendah, baik di bagian selatan maupun utara kabupaten ini.

Tanaman perkebunan yang bisa dikembangkan adalah kopi arabika. Kopi yang spesifik ditanam di daerah ini adalah jenis kopi bio, yang terkenal dengan aromanya yang lebih tajam daripada kopi arabika biasa.

Sebenarnya permintaan kopi bio di beberapa negara Eropa, Asia dan Amerika  cukup tinggi dan ini merupakan peluang pasar yang menjanjikan sehingga seharusnya intensifitas pengembangan kopi bio di kabupaten ini dapat ditingkatkan. Inilah salah satu tantangan bagi Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pegunungan Bintang menyajikan data tentang sektor tanaman pangan mencakup tanaman padi (padi sawah dan padi ladang), jagung, umbi-umbian, sayur-sayuran dan kacang-kacangan. Luas panen padi pada tahun 2012 seluas 240 Ha dengan produksinya mencapai 519,9 ton. Tanaman padi sudah dikembangkan di Distrik Iwur dan Distrik Batom.

Luas panen tanaman jagung 120 Ha, dimana merata di 21 Distrik induk. Ubi-ubian (ubi jalar, singkong, keladi) dengan luas panen ubi Kayu 182 Ha, ubi Jalar 6.370 Ha dan keladi 190 Ha dengan total produksi mencapai 64.983 ton. Luas panen kacang tanah dan kacang kedelai 136 Ha dan 49 Ha dengan total produksi 392 Ton, atau sebesar 0,59 persen. Untuk produksi sayuran, pada tahun 2011 sebanyak 2.423 ton. Tapi tahun 2012 mencapai 2.746,50 ton atau 323,50 ton.

Selain itu, tanaman buah-buahan, khususnya pisang telah memberikan kontribusi produksi  yang tidak sedikit. Produksi pisang cenderung naik dari tahun ke tahun. Bukan hanya itu, tapi juga buah merah yang merupakan salah satu unggulan masyarakat Pegunungan Bintang. semua kampung di Pegunungan Bintang mempunyai kebun buah merah dengan kisaran 2 hektar kebun buah merah per kampung.

BPS juga melaporkan, kalau hutan di Pegunungan Bintang menurut jenisnya, dibagi menjadi hutan lindung, hutan produksi, hutan konversi (hutan suaka alam dan hutan pelestarian alam). Tahun 2012, luas hutan lindung sebesar 591,56 Ha atau 35,64 persen dari total luas hutan keseluruhan (1.659.875 Ha).

Sementara luas hutan produksi mencapai 520.457 Ha yang terdiri atas hutan produksi terbatas sebesar 145.667 Ha dan hutan produksi tetap sebesar 272.789 Ha.  Sedangkan hutan produksi konversi sebesar 102.001 Ha

opulasi ternak besar yang terdiri dari Sapi dan Kerbau. Pada tahun 2012, jumlah populasi tersebut berturut-turut adalah 356 dan 5 ekor. Populasi ternak kecil pada tahun 2012 terdiri dari kambing 192 ekor dan babi 86.528 ekor.

Data BPS terbitan 2014 menyebutkan, bila dibandingkan dengan tahun 2012, populasi ternak kambing mengalami pengurangan sebesar 14 ekor, sedangkan populasi ternak babi mengalami peningkatan sebanyak 3.720 ekor.

Perdagangan Barang dan Jasa

Oksibil, ibu kota Kabupaten Pegunungan Bintang menjadi pusat perdagangan barang dan jasa. Kota Oksibil dengan luas wilayah  200, 50 KM2 tersebut menjadi pusat perdagangan barang dan jasa dari 34 distrik lainnya. Kota Oksibil juga sebagai kota roda perputaran ekonomi dan Pemerintahaan.

Usaha jasa transportasi di kota Oksibil masih didominasi oleh penyediaan jasa motor ojek. Sedangkan barang dagangan seperti pakaian, perabot rumah tangga, Bahan Bakar Minyak (BBM) dan bahan sembako (beras, supermi, bimoli, garam, dan lainnya) menjadi barang dagangan tumpuan harapan usaha para pedagang yang umumnya berasal dari masyarakat Sulawesi Selatan.

Harga barang seperti beras berkisar  antara Rp 35.000-40.000,- per kg, Garam 15.000 - Rp 20.000 per bungkus, supermi Rp 5.000 per bungkus, Kopi Rp 5.000 - Rp 10.0000 per gelas, rokok Sampoerna Mild misalnya Rp 20.000/bungkus. Sedangkan jasa untuk ojek motor Rp 10.000 - Rp 20.000/Km. Harga  tiket peswat tujuan Oksibil- Sentani/Jayapura berkisar Rp 1.050.000 – Rp 2 juta (pesawat Trigana Air Servis).

Selain itu, pemerintah daerah Pegunungan Bintang telah membangun berbagai koperasi. Data BPS terbitan 2014 membeberkan, ada 26 unit koperasi di Pegunungan Bintang pada tahun 2013. Namun pertanyaannya, apakah koperasi-koperasi itu berjalan aktif dan memberikan kontribusi bagi anggotanya ? (Fransiskus & Krist/Oknews)