Globalisasi Datang, Budaya Ap Iwol Lenyap?

UDARA siang itu agak panas terkena sinar mentari. Meskipun setengah jam sebelumnya diguyur hujan gerimis. Banyak orang memadati perkampungan bermandikan keringat. Ada yang datang hendak menyaksikan upacara adat. Ada pula yang hadir sebagai tuan acara. Ramainya manusia di kampung itu hanya dapat dibedakan dari busana yang dikenakan. Tuan acara mengenakan busana tradisional, sebagian mengenakan pakaian dinas PNS dan yang lainnya pakaian bebas seadanya. Upacara adatnya dihelat jauh dari kompleks perkampungan. Tampak hadir pula reporter dari RRI Stasiun Oksibil dan Majalah OkNews.

Di tengah perkampungan itu pengunjung dihibur oleh tarian Oksang, sebuah tarian tradisional suku Ngalum. Penarinya telah menghiasi tubuhnya dengan aksesoris khusus sesuai ciri khas tarian tersebut. Mengenakan busana koteka dengan aneka perlengkapan perhiasan di badannya demi memperindah penampilan dirinya agar menarik untuk ditonton. Tarian oksang menjadi pilihan tua-tua adat dalam acara adat itu karena jenis tarian ini secara turun-temurun biasanya dipentaskan untuk memuliakan keagungan Atangki (Allah) dan memohon kepadaNYA agar tercipta keharmonisan dan kedamaian hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Allah.

Tarian oksang mengandung nilai theologis, filosofis, ekologis dan ekonomis yang sangat mendalam. Tarian itu dipentaskan di atas panggung yang dirancang seadanya. Melihat kesederhanaan persiapan untuk menghelat tarian oksang hari itu, secara spontan seorang penonton berkomentar, “ini hanya oksang bolding sebagai tanda memanggil Awi (Rohagar kegiatan yang sedang berlangsung mendapat berkat, kekuatan dan kesehatan yang baik bagi pemiliknya”.

Di bagian lain dari tempat pementasan tarian itu, di atas sebuah bukit yang terletak jauh dari permukiman penduduk telah dibangun 4 unit perumahan tradisional etnik Ngalum. Bukit yang ditumbuhi pepohonan esip itu tertata apik oleh alam seolah ada tangan manusia yang menatanya. Udara sekelilingnya sejuk. Jarak antara satu rumah dengan yang lainnya sekitar 1-1,5 meter. Rumah yang paling besar dan tinggi ukurannya terletak agak menjorok ke arah barat. Agak terpisah dari perkampungan penduduk, terlihat jelas sebuah rumah tradisional yang menjadi pusat perhatian kebanyakan pengunjung. Rumah itu ternyata Ap Iwol Tumabip. Alunan nyanyian lagu sakral (bar alut) terdengar indah didengungkan dari dalam rumah itu. Lagu-lagu tersebut dinyanyikan oleh beberapa orang, semuanya berada di dalam rumah adat itu.

Lagu-lagu yang bernuansa religius dan sakral tersebut biasanya dinyanyikan hanya pada saat prosesi adat diselenggarakan, misalnya sedang ada upacara inisiasi (pendewasaan) anak-anak laki-laki. Setelah ditelusuri, diketahui bahwa di rumah adat itu (Ap Iwol) sedang berlangsung proses inisiasi adat yang dilaksanakan Ap Iwol Tumabip.

Dalam tradisi suku Ngalum, rumah Iwol hanya diperuntukkan bagi kaum pria. Rumah khusus kaum lelaki (ap iwol) menjadi pusat penyelenggaraan prosesi adat. Tradisi ini berlangsung secara turun-temurun sejak adanya nenek moyang manusia Aplim Apom hingga kini. Di sisi timur dibangun sebuah rumah mungil diperuntukkan khusus bagi wanita sebagai rumah bersalin. Rumah itu disebut Sukam. Sebelum orang Aplim Apom dipengaruhi peradaban luar, biasanya seorang perempuan yang sedang haid maupun yang hendak melahirkan diisolasikan di rumah ini.

Dari dalam rumah itu (sukam) terdengar tangisan seorang bayi dari rahim seorang ibu. Dalam proses melahirkan, ibu itu tidak dibantu seorang bidan. Melahirkan secara sederhana, apa adanya. Tentu tidak higienes, namun apa mau dikata. Masa itu, pendidikan kebidanan belum kunjung tiba. Saat mendengar tangisan sang bayi, bapaknya segera memasuki rumah itu dan mendoakannya secara adat memohon berkat, keselamatan dan kehidupan dari Atangki (Allah Sang Pencipta). Tidak lama kemudian bayi itu dibawa ke Abip (rumah utama keluarga) diisi dalam sebuah men (tas tradisional) beralaskan dedaunan halus dan sejuk.

Kemudian mereka yang ada di dalam Ap Iwol keluar satu persatu termasuk anak-anak kecil yang sedang menjalani tahap akhir dari seluruh tahapan inisiasi. Mereka berdiri berbaris di depan rumah adat itu guna memperlihatkan dirinya kepada khalayak umum, terutama kepada mama dan saudari kandungnya. Tidak lama seorang wanita membawa air dari kendi berbahan labu. Air putih tersebut diambil oleh tetua adat yang khusus bertanggungjawab dalam prosesi inisiasi, didoakan olehnya lalu dituangkan dalam sebuah alat yang diberi nama Daknam, kemudian memberikannya kepada semua yang menjalani inisiasi. Rupanya itulah saat yang tepat bagi kaum pria yang menjalani prosesi inisiasi atau upacara adat selama beberapa hari untuk mengakhiri masa puasanya.

Diteras Abip (rumah utama keluarga) nampak 2 orang wanita merajut men (tas tradisional)  tanpa peduli terhadap prosesi adat yang berlangsung. Wanita yang lain mendiami rumah dan sukam  sebagaimana biasanya. Dalam masa prosesi adat berlangsung, tak satu pun wanita yang menghampiri atau bahkan melewati areal bokam iwol. Seorang tetua adat dapat saja mengusir secara paksa atau bahkan membunuhnya jika ada yang melintas di areal Iwol itu karena sudah melanggar tatanan dan tahapan upacara pendewasaan seorang anak manusia.

Demikian sekelumit rangkaian drama tentang kehidupan manusia dari Suku Ngalum di masa silam sebelum pengaruh luar masuk di Tanah Aplim Apom. Drama itu diperagakan oleh masyarakat adat Iwol Tumabip yang terletak di kampung Esipding, Distrik Serambakon, Kabupaten Pegunungan Bintang. Drama sederhana tersebut dilangsungkan pada hari Senin, 10 Februari 2015.  Tidak jauh dari Esipding, berjarak kurang-lebih 1 Km, Iwol Siminbuk pun melakukan prosesi adat  yang sama pada waktu yang sama pula. Di sisi timur kampung itu, masyarakat adat Selsil atau Ebonaterar menyelenggarakan prosesi adat serupa.

Proses upacara adat yang sama berlangsung di sejumlah Ap Iwol yang berbeda yang menyebar di seluruh Wilayah Adat Suku Ngalum sesuai menurut hirarki adat yang sudah tertata rapi semenjak manusia Aplim Apom ada di Tanah leluhurnya.  Pemugaran dan pembangunan kembali bangunan fisik Ap Iwol itu sendiri merupakan bagian dari wujud pelestarian nilai-nilai adat yang dianut orang Ngalum. Adat sebagai bagian dari unsur kebudayaan pantas mendapat perhatian berbagai pihak di Pegunungan Bintang, khususnya pemilik Iwol itu sendiri.

Globalisasi dan dampaknya

Kebudayaan merupakan salah satu unsur mendasar dalam kehidupan manusia. Ia memainkan peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter diri, pola pikir, pola hidup, perilaku, kepercayaan dan ideologi yang dianut suatu bangsa. Drama kehidupan orang Ngalum yang diperagakan masyarakat dari Ap Iwol Tumabip seperti yang digambarkan di atas mencerminkan hal itu. Fakta saat ini menunjukkan kehidupan seperti ini mulai punah sebagai konsekwensi logis dari perkembangan dunia yang dinamis dan mengglobal.

Saat ini kebudayaan dan nilai-nilai hidup yang dianut orang Pegunungan Bintang secara turun-temurun semenjak adanya nenek moyang mereka mengalami pergeseran, bahkan nilai-nilai hidup tertentu yang dianut kian musnah. Jangan mencuri misalnya. Ajaran adat Ngalum dengan sangat jelas dan tegas melarang orang agar tidak boleh mencuri barang milik orang lain. Jika melanggar maka resiko adat pasti akan menimpah pelakunya. Tentu salah satu tangan akan dipotong. Hukuman adat ini ditegakan untuk terus mempertahankan nilai penghargaan dan penghormatan terhadap hak milik orang lain. Nilai hidup manusia Ngalum yang sangat luhur ini terus mengalami degradasi, bahkan merosot jauh dan digantikan oleh mental materialisme dan egoisme.  

Hal ini dapat terjadi karena berbagai faktor, termasuk masuknya agama dan pemerintah serta derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi informasi komunikasi memberikan dampak yang sangat besar terhadap merosotnya nilai-nilai hidup yang luhur itu. Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi ini. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan.

Terkait dampak  globalisasi terhadap pelestarian nilai-nilai budaya yang dianut bangsa-bangsa yang hidup di Negara-negara sedang berkembang, Simon Kemoni, sosiolog asal Kenya mengatakan globalisasi dalam bentuk yang alami akan meninggikan berbagai budaya dan nilai-nilainya. Dalam proses alami ini, setiap bangsa akan berusaha menyesuaikan budaya mereka dengan perkembangan baru sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupan dan menghindari kehancuran. Tetapi, dalam proses ini, negara-negara Dunia Ketiga harus memperkokoh dimensi budaya mereka dan memelihara struktur nilai-nilainya agar tidak dieliminasi oleh budaya asing. Dalam rangka ini, berbagai bangsa Dunia Ketiga haruslah mendapatkan informasi ilmiah yang bermanfaat dan menambah pengalaman mereka.

Arus deras globalisasi yang terus melanda seluruh elemen hidup manusia Aplim Apom tidak dapat dibendung lagi. Namun, berbagai alternatif harus ditempuh untuk mempertahankan eksistensi diri kita sebagai suatu suku bangsa yang ada. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita akan terus ada ? Apakah drama seperti yang digambarkan di atas dalam tulisan ini akan ada terus dalam sepanjang sejarah hidup manusia Aplim Apom ? Jawabannya harus dijawab oleh kita sendiri. Karena survive atau tidaknya budaya Aplim Apom tergantung pada manusia Aplim Apom sendiri. (Sostenes Uropmabin)