Dengan Iman dan Hati, Saya Bangun Pegunungan Bintang

Dengan Filosofi Takol Papi (kapak batu) yang diamanatkan para tetua adat  Aplim Apom Sibilki,  Drs Wellington L Wenda MSi memimpin Kabupaten Pegunungan Bintang. Kini, masa jabatan dari sang perintis itu akan berakhir.

 

SUDAH 12 tahun, Drs Wellington L Wenda MSi, pimpin Kabupaten Pegunungan Bintang, sejak 2003 hingga 2015. Pada tahun 2003 – 2004, Wenda ditunjuk Gubernur Papua saat itu, Jacobus (Jaap) Salossa sebagai Penjabat Bupati Pegunungan Bintang. Tugas utamanya adalah membentuk pemerintahan Kabupaten Pegunungan Bintang yang defenitif, yakni mempersiapkan pemilihan bupati dan pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) definitif.

Ketika tugas utamanya diselesaikan, lalu pemilihan bupati untuk pertama kali dilakukan di kabupaten ini. Hasilnya, Pasangan Drs Wellington L Wenda Msi dan Drs Theo Sitokdana terpilih sebagai bupati dan wakil bupati defenitif pertama untuk Kabupaten Pegunungan Bintang tahun 2005-2010.

Setelah berakhir masa jabatan bupati pada periode pertama, Wellington tampil lagi mencalonkan diri sebagai calon bupati. Tapi kali ini, Wellington berpasangan dengan calon wakil bupati Yakobus Wayam, SIP, M.Si untuk periode 2011 – 2015. Hasilnya, rakyat masih berikan kepercayaan kembali kepada Welington untuk menjadi Bupati Pegunungan Bintang yang kedua kali.

Wellington L Wenda telah merintis pembangunan Kabupaten Pegunungan Bintang sejak tahun 2003 dan akan berakhir 2015. Ada banyak suka dan duka yang telah dilaluinya.

Dan menjelang berakhir masa kepemimpinannya, Tim OkNews yang terdiri dari Frans Kasipmabin, Fredy Nalsa, dan Krist Ansaka, melakukan wawancara eksklusif di kediaman bupati di Oksibil pada 4 April 2015. Berikut ini, ikutilah tanya jawab OkNews dengan Bupati Wellington Wenda :

Apa yang muncul di benak Bapak, ketika ditunjuk dan dilantik menjadi  penjabat Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang  pada tahun 2003?

Saya waktu ditunjuk oleh Jaap Salossa (Gubernur Papua saat itu.. Red.), untuk menjadi penjabat bupati, saat itu yang muncul di hati saya, bagaimana saya menjadi bagian dari rakyat Pegunungan Bintang. Mereka ada adalah saya. Saya adalah mereka. Masalah mereka adalah masalah saya. Masalah saya adalah masalah mereka.

Untuk itu, prinsip dan komitmen saya dalam melayani masyarakat Pegunungan Bintang, adalah selalu mengedepankan Tuhan. Saya selalu memohon kepada Tuhan untuk membimbing dan menuntun,  supaya saya dapat melayani masyarakat Pegunungan Bintang dengan baik. Jadi moto saya : Membangun dengan iman dan hati. Iman bisa menembus tingginya gunung  hingga ke lembah. Hanya dengan iman Kristiani, saya melangkah bersama rakyat  Pegunungan Bintang.

Bagaimana kesan Bapak ketika pertama kali menginjakan kaki di Oksibil pada tahun 2003 ?

Ketika  saya turun dari pesawat ke lapangan terbang, langsung disambut tarian adat.  Kami berjalan kaki. Tak jauh dari landasan pesawat, di seberang jembatan kecil (sekarang sudah tidak ada, Red.), berdiri dengan tegap, seorang lelaki berpakaian adat, penuh wibawa. Dialah, Bapak Esau Uropmabin (Alm), Ketua Dewan Adat Aplim Apom Sibilki yang siap menyambut saya. Sementara itu, di samping kiri kanan, tarian adat pun digelar.

Bapak Esau menjabat tangan saya lalu ia berkata: “Adik, ko anak adat. Ko lahir dan besar di Honai. Ko belajar dari Honai. Ko keluar dari Honai untuk pergi belajar sampai Ko pintar. Sekarang Ko jadi pemimpin dan datang ke kampung untuk membangun kampung. Membangun anak-anak di kampung ini. Dengan kapak batu (Takol Papi)  ini, Ko membangun.

Dulu orang tuamu menggunakan kampak ini  untuk menebang kayu, belah kayu, bikin rumah, bikin kebun, dan lain-lain. Kami terbatas. Tapi sekarang,  Ko orang sekolah. Ko pintar dan Ko jadi pimpinan kami. Jadi dengan Takol Papi ini, Ko bangun anak-anak kami dan bangun kampung kami.” Setelah itu, bapak Esau menyerahkan kapak batu (Takol Papi).

Penyerahan Takol Papi ini sebagai simbol dari ungkapan filosofi masyarakat adat Aplim Apom Sibilki. Dengan Takol Papi itu mereka mau menyatakan, kalau mereka masih hidup sederhana.  Jadi penyerahan Takol Papi itu, mereka mau menyatakan kepada saya, selamat datang peradaban. Sekaligus sebagai simbol, bahwa alam dan manusia menyambut saya. Jadi dengan simbol Takol Papi, saya diminta untuk membangun manusia dan daerah Aplim Apom Sibilki.

Setelah itu, saya mulai memperkenalkan diri ke masyarakat. Saya ke Distrik Borme, Bime, Kiwirok, Eipumek dan distrik lain. Di distrik-distrik itu, saya disambut seperti saat saya tiba di bandara. Saya lihat, para orang tua adat di distrik masing-masing yang menyambut dan menyerahkan Takol Papi itu, pesannya sama semua. Saya kagum. Melalui Takol Papi itu, mereka mengatakan sesuatu dengan pandangan filosofi mereka. Dengan dasar filosofi itu, mereka sampaikan pandangan mereka.   Mereka sampaikan secara politis dengan ungkapan yang penuh filosofi mereka. Untuk pemerintahan, mereka tawarkan konsep pemerintahan.

Orang pegunungan hebat. Luar biasa. Dengan tatanan budaya yang luar biasa itu, menggambarkan tentang kerapian dalam berpikir. Luar biasa.

Saya datang ke Oksibil pada 5 Maret 2003. Manusia dan alam menyambut saya. Saat itu, udara cerah, pohon-pohon hijau, langit cerah. Saya menangis.

Bagaimana kesan Bapak terhadap sambutan masyarakat pertama kali?

Luar biasa sambuatannya. Dihadapan masyarakat yang menyambut, saya sampaikan begini: Setelah dilantik di Jayapura sebagai penjabat bupati, sebelum ke Oksibil, saya ke Wamena terlebih dahulu karena diundang orang di sana. Ketika tiba di Wamena, masyarakat mengarakan keliling kota. Malam itu, ketika saya dan istri (Yatina Kogoya STh, Red.) mau masuk ke rumah,  hujan dan angin. Beberapa pohon tumbang. Saat itu, kami diantar sejumlah perempuan dengan berlari-lari kecil sambil melantun nyanyian yang sarat dengan pesan.

Pohon tumbang dan pesan yang tersirat dari nyanyian sejumlah perempuan itu, adalah satu ungkapan kekesalan mereka. Kenapa saya tidak jadi Bupati di Wamena (Jayawijaya, Red.). Kenapa ke tempat lain (Pengunungan Bintang, Red.).

Selain itu ada sejumlah orang berjuang mati-matian agar saya menjadi Bupati di Yahukimo. Tapi Tuhan melalui Gubernur menunjuk saya ke Pegunungan Bintang karena diperlukan perencanaan yang matang untuk meletakan dasar pembangunan di kabupaten ini. Begitu yang saya sampaikan kepada masyarakat ketika mereka menjemput kehadiran saya di Oksibil.

Langkah pertama apa saja yang Bapak lakukan sebagai titik pijak dalam merancang pembangunan di daerah ini?

Sebelum merancang pembangunan di daerah yang kondisi geografisnya berat seperti ini, titik pijak saya adalah Tuhan. “Tuhan saya sudah datang. Saya diterima oleh saudara-saudara saya di sini.”  Saya mohon kepada Tuhan untuk bimbing dan tuntun saya. Setelah itu, barulah saya mulai bekerja.

Saya mengedepankan iman. Dengan iman Kristiani yang benar dan hati yang tulus, kita bangun daerah ini.  Itu komitmen saya. Tuhan yang menuntun kita untuk membangun. Jadi motto saya adalah : “Dengan iman dan hati kita membangun Pegunungan Bintang”.

Apa saja program prioritas Bapak untuk dua tahun pertama sebagai penjabat Bupati Pegunungan Bintang?

Tugas utama saya sebagai penjabat bupati, yaitu mempersiapkan kabupaten ini untuk mempunyai bupati dan DPRD yang definitif. Walau begitu, sebagai penjabat bupati dengan keterbatasan sumber daya yang ada, saya merancang dan mempersiapkan infrastruktur utama untuk memutar roda pemerintahan dan pembangunan kemasyarakatan.  

Tantangan apa saja yang Bapak hadapi ketika memulai merancang pembangunan di daerah ini pada periode pertama?

Kondisi geografis dan ketersediaan sumber daya manusia di Kabupaten Pegunungan Bintang. Tapi tantangan ini menjadi pemacu semangat untuk saya dan Pak Theo Sitokdana (Wakil Bupati saat itu, Red.)  memulai memutar roda pemerintahan dan menjalankan roda pembangunan kemasyarakatan, sesuai dengan amanat yang diberikan para tetua adat melalui penyerahan Takol Papi  yang menjadi simbol dari ungkapan filosofi masyarakat adat Aplim Apom Sibilki.

Apa  saja program prioritas Bapak pada lima tahun pertama ?

Membuka isolasi. Seluruh lapangan terbang harus diperbaiki. Ada 65 lapangan terbang. Perbaikan lapangan-lapangan ini karena untuk sampai di 34 distrik di kabupaten ini, hanya bisa ditempuh dengan menggunakan pesawat terbang.

Kemudian, jalan setapak itu harus diperbaiki. Dengan program padat karya, jembatan yang  kurang bagus diperbaki supaya anak-anak ke sekolah bisa melewati jalan yang baik walaupun mereka jalan kaki. Aspek kenyamanan pejalan kaki harus terjamin.

Dulu kalau ke pasar, kita hanya bisa membawa hasil kebun satu noken karena jalan yang kurang baik. Tapi setelah jalan diperbaiki, kita bisa membawa dua noken atau lebih. Jarak tempuh yang panjang kita perpendek dengan memotong jalan.

Untuk bandara utama di Oksibil diperpanjang dan diperluas. Saya paksa kontraktor (PT. Sinle Perkasa-Red) untuk kerja siang malam. Dan saya pun kontrol langsung, bahkan saya bersama pekerja dari malam sampe jam 9 pagi baru saya pulang. Saya tidur di atas lapangan itu. Mereka tidak bisa tidur karena saya ada di situ dan makan dan minum di tenda.

Saya paksa kontraktor untuk memperpanjang dan melebarkan landasan Oksibil ini, karena saya sudah minta pimpinan perusahaan penerbangan Pelita Air Service, untuk mendarat di Oksibil pada 15 Oktober 2005. Jadi, kita harus kerja siang malam.

Tanggal 15 Oktober lewat. Pimpinan penerbangan Pelita menanyakan kesiapan landasan Oksibil. Tapi saya minta waktu lagi karena pembangunan landasan belum selesai. Sampai November, sudah 500 meter siap, dan masih tersisa 400 karena lokasinya rawa. Walau begitu, lokasi rawa itu, kami timbun.

Setelah 500 meter pembangunan landasan selesai, maka jumlah keseluruhan panjang landasan ada 1,4 Kilometer dan lebar 30 meter. Lalu saya minta penerbangan Pelita untuk mendarat di Oksibil (baca : Sekilas Mengenal Pegunungan Bintang: Menata Alam untuk Sebuah Asa).

Setelah pesawat berbadan lebar bisa mendarat di landasan Oksibil, lalu kami cari helikopter untuk angkut alat berat. Uang kami siapkan. Kebetulan, perusahan penerbangan Trigana punya satu heli. Saya langsung menghadap direktur Trigana di Jakarta. Tapi dari pihak Trigana tidak bisa melayani permintaan helikopter karena sudah dua tahun heli itu belum pernah angkut alat berat. Mereka alasan heli rusak.

Pimpinan Trigana saat itu minta maaf kepada saya karena heli yang mereka miliki tidak bisa terbang. Tapi saya terus mendesak. Saya katakan kepada pihak Trigana untuk tolong saya karena Kabupaten Pegunungan Bintang tertinggal dari kabupaten lain.

Saya berdoa dan dengan iman Kristiani yang kuat, saya yakin, pihak Trigana bisa membantu. Kebetulan, salah satu pimpinan Trigana itu, satu iman dengan saya. Lalu saya katakan, “Dengan pertolongan dan perlindungan Yesus, heli ini bisa terbang dan tidak akan jatuh. Ijinkan, heli itu untuk terbang.”

Puji Tuhan. Roh kudus bekerja. Pimpinan Trigana itu panggil anak buahnya untuk membuat rekomendasi.

Tahun 2006 awal, heli kopter bawa alat berat sehingga Juni sampai Agustus, kita bongkar jalan dan lapangan terbang.

Seacara bertahap, kita terus melakukan pembangunan jalan sehingga jalan-jalan setapak di kota Oksibil, kita aspal.

Apakah ada evaluasi dari Bappeda ?

Adoh, itu lagi. Belum ada evaluasi dari Bappeda. Sa dapat laporan dari kecamatan itu, Bappeda turun ke distrik-distrik, dong parkir peswat di bandara, mereka putar-putar satu jam, dong balik. Dong tara (mereka tidak) diskusi dengan masyarakat. Bagaimana mau dapat data? Bappeda tunggu Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrembang), baru mereka dapat data. Nanti Musrembang, baru mereka hitung Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Kalau kondisi Bappeda seperti begini, bagaimana, dong mau buat perencanaan?  

Kalau berjalan normal dengan sumber daya yang baik dan semua mau serius, jangankan 10 tahun, 5 tahun saja kita bisa bangun dengan baik dan Pegunungan Bintang bisa lebih maju.

Lalu, bagaimana dengan pelaksanaan program pemberdayaan distrik?

Pada waktu itu, Pak Theo (Theo Sitokdana, Wakil Bupati 2005-2010, Red.) sarankan kepada saya begini :  “kakaK  pengelolaan dana dan program pemberdayaan distrik dan kampung itu melalui Ap Iwol.  Uang ini dikelola di Ap Iwol. Tapi sebelumnya, para pengelola uang itu dilatih terlebih dahulu supaya mereka trampil dalam mengelola dan mempertanggungjawabkan uang dan program pemberdayaan itu.”

Saran Pak Theo ini tidak kami terapkan karena konsep pemberdayaan melalui distrik sudah disiapkan sehingga kami pakai konsep umum, yaitu konsep pemberdayaan melalui distrik.

Lalu, dengan konsep ini kami wujudkan dalam bentuk program. Kemudian, Kita turunkan Rp 1 miliar untuk pemberdayaan distrik. Kita mendorong pertumbuhan di distrik. Kita turunkan Rp 1 miliar karena waktu itu kita punya DAU (Dana Alokasi Umum) Rp 76 miliar. Kebijakan ini terhenti karena ada program PMPM Mandiri Respek.

Dana pemberdayaan distrik tetap ada, tapi jumlahnya berkurang dari Ri 1 miliar menjadi Rp 500 juta. Harapan kita, dengan PNPM Mandiri Respek, program pemberdayaan distrik tetap berjalan dan pembangunan di sektor lain tetap kita lakukan dengan dukungan dari provinsi dan pusat.

Pemberdayaan distrik dan kampung itu, manajemennya bagus tapi dengan kondisi keuangan yang menurun, ya, kami susah juga. Walau begitu, kita tetap dorong supaya program pemberadayaan tetap jalan, biarpun lambat.  

Potensi ekenomi di kampung-kampung di Penungan Bintang, melimpah. Contohnya di Distrik Borme dan Eipumek. Di sana, singkong putih, jagung, ikan mas, dan ternak babi sangat bagus. Tapi untuk angkut dan jual ke luar, hanya dengan pesawat.

Satu kali, saya tegur Kepala Distrik Borme. Saya bilang begini : Kenapa tidak bawa singkong? Kalau kau bawa singkong tiga buah saja, naik pesawat timbang, harganya sekitar Rp 50.000. Lalu kalau dijual ke Oksibil, tiga buah singkong itu harga Rp 100.000, maka uang Rp 50.000 yang kau bayar untuk biaya angkut (timbang), sudah kembali dan kau dapat untung lagi Rp 50.000.

Dari cerita kecil dengan itu, lalu terobosan apa yang Bapak lakukan?

Saya perintahkan Bagian Perekonomian Daerah (Perekda) untuk bikin lembaga bisnis yang bisa menampung hasil rakyat. Lalu kita bentuk Toserba (Toko serba ada, Red.) dan dasar pendiriannya dengan peraturan daerah.

Setelah Toserba punya dasar hukum dan modal awal, kita dirikan 12 unit Toserba yang dikelola oleh Gereja Katolik dan GIDI. Ada 6 unit yang dikelola Gereja Katolik dan 6 unit oleh GIDI. Di saat kita mulai mengisi barang-barang ke Toserba itu, ada sejumlah orang yang “menghadang”, akhirnya, Toserba itu tidak jalan.

Saya sudah ingatkan dan memberi tugas kepada Wakil Bupati, Sekda, Asisten 1 dan Asisten 2 untuk mendorong aparat kita supaya Toserba dapat berjalan lagi. Tugas yang berikan itu, tidak jalan. Wakil Bupati tidak mendorong Sekda, dan Sekda tidak dorong asisten.  Kebijakan dan wewenang, sudah saya berikan. Perekda harus kreatif dan lapor saya. Toserba butuh uang sekian, kita berikan supaya Toserba tetap jalan. Tapi, semua tinggal mimpi. Ya... akhirnya Toserba itu mati.

Bagaimana dengan pemberdayaan kepala kampung, guru dan tenaga kesehatan?

Dari APBD, saya siapkan Rp 90 miliar untuk insentif per bulan bagi kepala kampung, hansip, guru dan tenaga kesehatan. Kepala kampung insentifnya dari Rp 35.000 per bulan  naik menjadi Rp 500.000,- per bulan, lalu saya naikan lagi menjadi Rp 800.000,- per bulan. Insentif guru kalau tidak salah Rp 2,5 juta, perawat Rp 2,5 juta. Hansip juga kita berikan insentif. Di Papua, kabupaten mana yang berikan insentif per bulan kepada hansip? Hanya hansip di Pegunungan Bintang saja yang dapat insentif.

Kita sudah berikan perhatian. Tapi uang yang kita berikan sebagai insentif itu, dipakai untuk main judi dan turun ke Jayapura. Mereka tidak memperhatikan rakyat. Saya sudah ingatkan berulang kali tapi kelakuan itu tidak pernah berubah.

Saya marah dan waktu Natal dalam sambutan sa katakan, “cuma saya saja kah yang kasih masuk tangan ke sak dan kasih keluar uang untuk rakyat?  Sementara itu, Kepala Distrik potong honor aparat.  Mereka bukan hanya potong, tapi makan habis honor aparat kampung. Kelakukan model apa itu (baca rubrik kabar dari Distrik : Sudah 5 Tahun, Kepala Distrik Batani Tak Bertugas, Red.). Kamu cuma namanya  saja manusia, tapi hatimu binatang. Muka orang gunung tapi hatimu binatang. Sa pikir Tuhan tau, maksud saya. Sebagai pimpinan, sa bertanggung jawab di hadapan Tuhan.

Apa saja Keberhasilan yang sudah dicapai selama 12 tahun ?

Keberhasilan seharusnya kita mulai dari Pendidikan. Tapi saya tidak punya data pendidikan. Data pendidikan benar-benar kacau. Padahal, prioritas utama yaitu bagaimana kita bangun pendidikan. Bicara pendidikan, indikator utama yang kita lihat itu, anak usia yang sudah tertampung itu berapa. Kemudian, lamanya pendidikan anak. Kita di Pegunungan Bintang lamanya pendidikan rata rata 6,5. Itu berarti, anak tamat SD tapi tidak melanjutkan pendidikan lagi. Masuk SMP putus lagi. Ceritanya seperti itu.

Anak-anak kita yang selesai SD masuk SMP tapi mungkin kendala keuangan atau tempat tinggal, akhirnya dia tidak melanjutkan. Untuk indikator tingkat kelulusan SD, SMP, SMA/SMK, kita lihat saja nanti di tahun ini.

Selama 12 tahun bagaimana dengan IPM ?

Untuk mengangkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Pegunungan Bintang, kita harus bekerja keras untuk pembangunan Sumber Daya Manusia melalui pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, dan infrastruktur. Tapi sumber daya araratur untuk  melakukan pembangunan bidang  pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, dan Infrastruktur sangat lemah sehingga hal ini menjadi hambatan. Hati saya menangis dan malu karena IPM kita rendah.

Apakah tenaga sensus dari statistik yang turun ke kampung-kampung itu, bertemu dengan para guru, perawat, dan tokoh-tokoh lain.  Bagaimana mereka mengetahui jumlah ibu hamil di satu kampung. Bagaimana pendapatan masyarakat. Berapa jumlah kolam ikan. Berapa tingkat pendapatan masyarakat per kampung, dan data-data lain. 

Apakah selama 10 tahun terakhir ini, Bapak kesulitan dapat data yang akurat ?

Saya kesulitan dapat data yang akurat. Tapi sebenarnya, dinas dan badan itu yang punya data. Kalau mereka punya data dan aparatnya kerja baik, maka bisa kita tahu dari laporan bulanan, triwulan, tahunan. Laporan inilah yang dilaporkan ke Badan Pusat Statistik (BPS).

Sekarang data kita tidak akurat. Saya kesulitan dapat data yang akurat karena keterbatasan sumber daya aparatur. Banyak data dari statistik tidak sesuai. Kita harus jujur, kalau nol tetap nol. Saya senang kalau itu nol karena angka itu menunjukan kepada kita tentang tingkat keberhasilan.

Dengan angka nol itu, akan menjadi perhatian bersama dan kita bisa perbaiki lima tahun kemudian. Tapi lebih baik kita mulai dari nol daripada tidak berbuat sama sekali. Pembangunan itu begitu. Saya lebih senang kalau nol tetap nol. Saya tidak mau laporan itu direkayasa karena itu berdosa.

Setelah saya, pasti ada pemimpin-pemimpin baru akan melanjutkan. Pasti ada yang mulai dari nol karena tidak ada data.

Pada periode pertama tahun 2005-2010, saya dan wakil bupati saat itu, Theo Sitokdana mencoba memutar roda pembangunan ini dari distrik tanpa ada data dan kita mulai melakukan pendataan. Tapi pengawasan berjalan dengan baik, sehingga debut pembangunan berjalan dengan cepat. Apalagi saat itu, Pak Theo memberikan perhatian khusus untuk pendidikan, sehingga saat ini kita punya banyak sarjana.

Untuk periode kedua tahun 2011-2015, hasil kinerja saya dan wakil bupati, Yakobus Wayam, Sip MSi dapat kita lihat dari hasil evaluasi yang ada di BPKP dan Bappeda. Saya percaya dengan hasil evaluasi itu.

Ada banyak keberhasilan yang dicapai. Tapi apa keberhasilan monumental yang akan tetap membekas di hati bapak sendiri dan juga masyarakat ?

Untuk program monumental, awalnya saya berpikir untuk membangun kantor bupati karena itu kantor induk pemerintahan. Bagunan itu bisa berubah, tergantung pimpinannya. Untuk itu, saya bagun manusia melalui pendidikan. Dan membangun dan mempersiapkan manusia Aplim Apom Sibilki akan dikenang sepanjang masa (Baca Wajah Pendidikan di Negeri Aplim Apom :  Dari YPPK ke Pemerintah, Dari 10 Jadi 100-an Sarjana, Red.).

Secara jujur saya mau katakan, saya bangga karena dimasa kepimpinan saya, lahir banyak sarjana asli Pegunungan Bintang.

Waktu saya masuk Pegunungan Bintang, ada sejumlah adik-adik yang sudah menyandang gelar sarjana karena ditopang oleh Gereja Katolik. Mereka itu antara lain : Theo Sitokdana, Theo B. Opki (Alm), Edo Alwolka (Alm), Kris Uropmabin (Alm), Enos Kalakmabin dan lain-lain. Ada sekitar 10 orang atau lebih. Dari suku Ketengban, hanya satu orang namanya, Frans Mimin. Saat itu, dia D3 pemerintahan.

Tapi sekarang, dalam tempo 10 tahun,  jumlah sarjana dari adik-adik asli Pegunungan Bintang sudah mencapai ratusan sarjana (S1) bahkan ada yang sudah master. Mereka ini kita biayai semua. Belum lagi, tugas belajar. Inilah karya monumental yang akan abadi. Mereka ini yang akan membangun daerah ini.

Tapi di lain pihak, saya menangis melihat pendidikan di SD, SMP dan SMA/SMK pada lima tahun terakhir ini. Saya sudah keluarkan kebijakan yang berpihak kepada pendidikan SD, SMP dan SMA/SMK, tapi tidak ada upaya dari instansi teknis untuk melakasanakan kebijakan itu. Betul-betul sedih.

 Apa harapan Bapak kepada aparat pemerintah yang akan datang?

Saya dengan Pak Theo Sitokdana dan Pak Yakobus Wayam, kita meletakan dasar pembangunan untuk Kabupaten Pegunungan Bintang. Jadi harapan saya itu yaitu, pemerintah bersama masyarakat harus memperhatikan pembangunan bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi rakyat dan infrastruktur transportasi dan komunikasi.

Kemudian, pembangunan ini harus didukung dengan data jelas. Data ini harus menjadi informasi publik.

Kalau fokus untuk bidang pendidikan dengan indikator yang jelas. Pembangunan ekonomi dengan indikator yang jelas. Begitu pula dengan kesehatan, harus indikator yang jelas dan bisa terukur serta target yang jelas. Untuk infrastruktur, harus perhatikan lapangan terbang, jalan setapak dan jalan yang menghubungkan kampung dan distrik.

Anggaran setiap tahun harus ada untuk perawatan. Tidak bisa tidak. Untuk mendukung program itu, maka aparatur itu harus bagus, disisplin aparatur harus diperhatikan dengan tegas.

Saya sudah kaderkan cukup banyak adik-adik di sini. Tinggal mantapkan. Terutama bagaiamana mentalitas dan kualitas dimantapkan. Hanya aparatur yang punya mentalitas dan kualitas yang baik serta memenuhi persyaratan yang ditentukan, yang bisa menduduki jabatan tertentu. Jabatan kepala bagian harus golongan 4 dan paling rendah golongan 3 D.

Kemudian Kepala Sub Bagian (Kasubag) harus golongan 3 dan punya konsep, supaya sistem dan kegiatan administrasi bisa berjalan. Kalau tidak begitu, nanti mati, seperti yang terjadi selama ini.

Data di statistik harus diperbaiki. Untuk itu, mereka yang di sekretariat daerah harus dapat mengorganisir Dinas dan Badan untuk menyiapkan data yang akurat dan kirim ke Bappeda dan BPS.

Bagian ekonomi kirim ke bagian ekonomi, pemerintahan kirim ke pemerintahan. Sosial masuk ke sosial, keuangan masuk ke keuangan, dan data ini dikelola di Bappeda dan BPS.

Bappeda juga harus punya hubungan dengan dinas-badan.  Arahkan mereka menyusun perencanaan di dinas atau badan itu.

Manajemen aparatur harus kuat. Harus dari bawah. Distrik harus hidup dan kuat. Kampung harus hidup dan kuat. Ini tugas Sekda.

Sistem kinerja sebenarnya sama saja dengan pola umum. Sekarang, pengelolaan keuangan berdasarkan kinerja. Sistem kinerja harus berorientasi pada hasil.

Apa harapan dan pesan Bapak kepada masyarakat ?

Sa mo kasi tahu, demi Tuhan, masyarakat sebenarnya sudah siap. Kemauan untuk kerja keras sangat tinggi. Setiap kecamatan masyarakat punya usaha sendiri. Itu hebat. Jadi dari sisi masyarakat, sebenarnya  tidak ada masalah.

Kita punya kegiatan bisa menyentuh masyarat. Hasilnya, Kepala Kampung Awimbon, dia bisa buat proposal ke Kementrian Daerah Tertinggal. Dia ingin kampungnya maju jadi dia minta bantuan. Jadi sebenarnya, masyarakat Pegunungan Bintang sudah siap.

Gereja Katolik, melalui penerbangan AMA ini, benar-benar melayani masyarakat. Sungguh luar biasa. Kehadiran AMA untuk masyarakat Pegunungan Bintang bila dibanding kabupaten lain. Mereka selalu siap untuk membantu masyarakat. Jadi wajar dan pantas, pemerintah memberikan perhatian kepada AMA.

Apa harapan dan pesan Bapak kepada bupati-bupati yang akan datang ?

Pesan saya untuk orang-orang yang akan menjadi bupati ke depan : Harus menjadi diri sendiri. Para bupati itu harus jadi orang gunung dan menjadi pemimpin untuk dirinya dan terpenting untuk rakyatnya. Mereka harus menjadi orang Pegunungan Bintang. Mereka tidak boleh merubah dirinya. Dengan rasa sayang terhadap dirinya, masyarakatnya pun akan diperhatikan.

Identitas diri sebagai orang gunung, khususnya jati diri sebagai anak dari Pegunungan Bintang, harus dipertahankan dan diwujudkan dalam program-program pemberdayaan terhadap masyarakat di seluruh wilayah Pegunungan Bintang.

Apa harapan dan pesan Bapak kepada Stake holder?

Kita datang dari latar belakang yang berbeda karena terpanggil dan bertugas di Pegunungan Bintang. Sebagai orang yang punya keahlian, saudara harus membantu rakyat di sini. Saudara harus tahu masyarat di sini. Saudara diutus Tuhan untuk mengabdi kepada masyarakat di sini.

Bagaimana Istri untuk menopang Bapak ?

Istri saya hamba Tuhan. Ibu tak ikut campur mengatur masalah kantor. Ibu dengan saya sama-sama sibuk, karena selama 10 tahun atau dua periode, ibu aktif Persekutuan Wanita Baptis Papua (PWBP).

Waktu menikah, umur kita beda jauh. Tapi kita dua dipilih oleh Tuhan sehingga dia bisa menyesuaikan. Istri saya itu termasuk keluarga dekat jadi saling melengkapi.

Saya sebagai bupati, ibu tidak ikut campur mengatur masalah kantor. Tidak seperti istri bupati lain. Saya melayani msyarakat, dia juga melayani orang. Walau begitu, dia menjadi penopang yang sangat luar biasa. Setiap hari Sabtu dia berdoa agar kita berjalan dengan aman.  

Saya dan istri  punya kebiasaan begini : burung-burung, pohon-pohon dan ciptaan Tuhan yang lain, tidak boleh mendahului kita. Bagun pagi, ciptaan Tuhan yang lain tidak boleh menginjak kita. Mereka tidak boleh mendahului kita bersiul. Jadi jam 3 pagi, kita sudah baca Alkitab dan berdoa.

Kalau  binatang lain mendahuli, kita malu di hadapan Tuhan. Saya bangun duluan, sa baca Alkitab. Ibu juga begitu.

Masa makhluk yang tidak punya akal ini mendahuli kita untuk menghucap syukur. Saya dengan ibu punya kebiasaan itu. Di tempat mana saja kita berada, kita selalu mengucap syukur. ****