Revitalisasi Ap Iwol, Langkah Membangun Identitas Diri

 

SECARA harafiah, menurut bahasa Ngalum, Ap atau Aip atau Abip artinya rumah. Sedangkan kata Iwol jika dipisahkan maka akan menjadi i dan woli artinya mereka dan wol artinya jalan. Dengan demikian, iwol artinya jalannya mereka. Jadi,  secara harafiah Ap Iwol dapat diartikan sebagai rumah, jalannya mereka. Untuk memahami lebih jauh tentang pengertian harafiah ini, kata Ap Iwol dapat dibedah menjadi tiga kata kunci, yakni ap (rumah), i (mereka) dan wol (jalan). Menurut susunan kata, rumah menempati urutan pertama kemudian diikuti kata mereka dan diakhiri kata jalan. Jika demikian maka rumah menjadi fokus utama.  

Meskipun demikian, kata Ap Iwol tidak serta merta dapat didefinisikan seperti pengertian harafiah itu. Persoalannya karena kata Ap Iwol bukan semata-mata persoalan bahasa (linguistik) atau permasalahan akar kata (etimologi) atau permainan tata bahasa (grammatikal). Namun, kata Ap Iwol mengandung makna yang sangat luas dan mendalam, kata ini memiliki multi makna dan berdimensi filosofis, spiritual, ekologis, ekonomis dan teologis. Bagi manusia Aplim Apom, Ap Iwol merupakan rumah kehidupan, sehingga rumah tersebut menjadi jalan menuju rumah kehidupan yang sebenarnya. Penekanannya pada pengertian rumah kehidupan. Pengertian ini memiliki makna yang sangat mendalam dan mendasar bagi kehidupan manusia Aplim Apom. Tentu akan muncul beragam interpretasi sesuai konteks, perspektif dan latar belakang sudut pandang.

Kenapa AP Iwol adalah rumah kehidupan bagi manusia Aplim Apom ? Logika sederhananya adalah bahwa rumah merupakan centrum kehidupan manusia; segala sesuatu berasal dari rumah dan kembali ke rumah, bermula dari rumah dan berakhir di rumah. Kehidupan merupakan sesuatu yang abstrak, tidak kelihatan, tidak dapat diraba, tidak bisa dipegang. Juga tidak dapat berkomunikasi. Namun di rumah, kehidupan yang abstrak itu menjadi kelihatan, menjadi nyata, bisa dipegang, bisa dilihat, dapat memperoleh wujud kongkritnya. Kenapa, karena di rumah itu manusia hidup, manusia berinteraksi, manusia berkomunikasi, manusia saling menegur sapah, saling mencintai, saling melayani, saling menunjukan rasa kasih sayangnya, dll. Karena itu, rumah menjadi pusat dari segala yang ada dan yang akan ada.

Di rumah, segala interaksi sosial, spiritual dan ekonomis dapat terjadi. Di rumah pula permenungan hidup seseorang dapat dilakukan. Dari rumah tercipta sesuatu baik yang bersifat empirik maupun yang mengandung ideologis. Dari rumah dihasilkan sesuatu yang bersifat yang sakral dan yang profan, yang bersifat duniawi maupun yang bersifat surgawi. Demikianlah manusia Aplim Apom yang mendiami belantara Pegunungan Bintang, baik yang menghuni di dataran tinggi maupun di hamparan dataran rendah yang luas memandang, menghayati dan menyelami Ap Iwol sebagai rumah kehidupan dalam seluruh tatanan hidupnya. Segala aktifitas yang memiliki dimensi theologis dan spiritual yang dapat menghasilkan, mendatangkan dan menimbulkan efek kehidupan berkelanjutan dan berkesinambungan hidupnya diselenggarakan di Ap Iwol. Misalnya upacara pendewasaan anak laki-laki (inisiasi adat), upacara-upacara ritual adat, pendidikan adat tahap lanjutan, doa-doa permohonan kesuburan dan keselamatan, nyanyian-nyanyian rohani, cerita-cerita sakral, mitos-mitos religius, wejangan-wejangan hidup, semuanya diselenggarakan di AP Iwol.

Namun, sayang dikata sayang, apa mau dikata. Semuanya hampir tinggal kenangan. Tentu, kerinduan itu ada, namun bukannya impian menjadi kenyataan, tapi sebaliknya kenyataan berbuah lain, proses kesirnaan dan kelenyapan rumah kehidupannya manusia Pegunungan Bintang itu terus menghampiri setiap gerak langkah anak cucu nenek moyang suku Ngalum dan Ketengban. AP Iwol yang duluhnya menjadi tumpuan, pegangan dan centrum  kehidupan manusia Aplim Apom kian hari kian lenyap. Globalisasi dan peradaban modern sudah mengambil alih tempatnya Ap Iwol. Peran sentralnya sebagai rumah kehidupan kian tidak mendapat tempat di hati generasi muda Aplim Apom. Rohnya Ap Iwol yang dapat menghidupkan seluruh sendi kehidupan manusia Ngalum dan Ketengban sudah bergeser karena deras dan kencangnya arus globalisasi dan peradaban modern. 

Revitalisasi Ap Iwol

Menjawab tantangan global tersebut, Pemerintah Daerah Kabupaten Pegunungan Bintang memberikan perhatian serius untuk berupaya merevitalisasi Ap Iwol. Maksudnya karena Ap Iwol merupakan sesuatu yang sangat vital dalam hidup orang Ngalum dan Ketengban, namun kian tergeser dan lenyap maka harus ada upaya untuk mem-vital-kan kembali (revitalisasi), difungsikan kembali, diperankan kembali. Upaya revitalisasi itu dimulai dari pemugaran atau pembangunan kembali fisik rumahnya. Karena kehadiran fisik bangunan Iwol akan terus mengingatkan pemiliknya untuk merawat dan melestarikannya, baik hal-hal yang berhubungan dengan perangkat keras (fisik bangunan) maupun perangkat lunaknya (spiritual, keagamaan).

Dalam tahun anggaran 2014 misalnya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pegunungan Bintang telah memprogramkan dalam rencana kerjanya untuk membangun kembali bangunan fisik rumah Iwol yang telah roboh atau telah termakan waktu karena tidak adanya perhatian dan perawatan dari klen pemiliknya. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pegunungan Bintang, Hironimus B. Uropmabin, S.Pd, ketika ditemui usai kegiatan pemberian dana kepada perwakilan 35 Ap Iwol pada hari Senin, 24 November 2014 di Oksibil menuturkan tujuan dari program dimaksud. “Sebagai dinas tekhnis yang membidangi seni, budaya dan pariwisata kami berkewajiban melestarikan kekayaan kearifan lokal tanah Aplim Apom terutama kebudayaan serta adat istiadatnya”.

Kepedulian pemilik rumah adat (Ap Iwol) kini mulai pudar sehingga aktivitas adat istiadat di Ap Iwol telah lama mandeg. “Ap Iwol sebagai fondasi kehidupan orang Aplim Apom sebelum masuknya agama dan pemerintah, kini  telah tidak mendapat tempat lagi padahal hal itu amat sangat penting. Oleh karena itu masyarakat pemilik Ap Iwol mesti digerakkan hatinya sehingga kepedulian mereka terhadap adat istiadat serta nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya muncul dan terpatri dalam hati lagi” ujarnya menambahkan.

Sementara itu Kepala Bidang Budaya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pegunungan Bintang, Merary N. Liusanda,SS  pada saat yang sama mengharapkan agar kebangkitan semangat untuk menghidupkan kembali Ap Iwol tidak hanya karena adanya bantuan dana dari Pemerintah Daerah namun harus dari kesadaran diri sendiri untuk melestarikan nilai-nilai luhur yang terkandung dari Ap Iwol. ”Kami berharap bangkitnya Ap Iwol di Pegunungan Bintang ini tidak hanya karena bantuan dari Pemerintah Daerah melainkan betul-betul dilaksanakan dengan dan dari hati sebab Ap Iwol selain agama merupakan dasar pembentuk karakter manusia Aplim Apom, penuntun hidup, sebagai aturan dalam tata nilai serta norma hidup orang di atas tanah ini”, ungkapnya.

Menanggapi kebangkitan semangat melestarikan dan merevitalisasi Ap Iwol, Kepala BAPPEDA Kabupaten Pegunungan Bintang, Ir. Spey Bidana,M.Si menyatakan apresiasinya kepada klen-klen pemilik Ap Iwol. “Apresiasi itu diberikan tidak hanya karena masyarakat telah membangun Ap Iwol tetapi lebih dari pada itu, masyarakat telah memberikan bukti gamblang bagaimana suatu kepercayaan dari pemerintah dijawab secara sempurna oleh mereka dalam tindakan nyata” ujarnya. Sebagai anak negeri Aplim Apom, Kepala BAPPEDA menegaskan tentang rencana ke depan bagaimana Ap Iwol menjadi basis pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sebab menurutnya proses pembangunan lewat jalan lain sedikit mandeg.

Penegasan Kepala BAPPEDA ini tidak sekedar slogan belaka, dalam proses penyusunan rencana strategis (renstra) dan rencana kerja (renja) SKPD, ia mengarahkan seluruh pimpinan SKPD agar penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Pegunungan Bintang tahun 2016-2020 mengacuh kepada Visi dan Misi yang sudah dirancangnya yakni “Terwujudnya masyarakat Pegunungan Bintang Yang Sehat, Cerdas dan Mandiri Ekonomi Berbasis Apiwol dan Tata Ruang”.

Menanggapi kebijakan pembangunan Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang seperti ini, seorang tetua adat dari Ap Iwol Diseleng berkomentar, “saya senang pemerintah memberikan perhatian terhadap Ap Iwol di Pegunungan Bintang. Semoga pemberian dana kepada iwol-iwol ini tidak membuat orang berpikir atau berharap iwol sebagai sumber pendapatan melainkan memegang teguh iwol sebagai rumah kehidupan atau dasar hidup yang sejak dahulu kala sudah diberikan Atangki (Allah) kepada kita”. Seorang tua adat lain dari Ap Iwol Selsil, Bapak Saverius Uropmabin berpendapat lain sambil mengungkapkan rasa kecewanya dan dengan nada kritis menanggapi perhatian Pemerintah Daerah merancang pembangunan lima tahun ke depan dengan menggunakan pendekatan kultural.

“Sebenarnya saya kecewa kepada Pemerintah Daerah karena pembagian dana Iwol salah sasaran, karena dalam pemberian bantuan dana itu tidak melihat mana Iwol yang masih mempertahankan kesakralan adat istiadatnya dan mana yang telah menghilangkannya”. Ia menambahkan, mestinya beberapa Iwol tidak boleh dapat karena telah membuang hal-hal yang berhubungan dengan adat. “Setelah mereka menerima Injil, hal-hal adat dianggap pekerjaan setan, sehingga mereka sudah tidak peduli lagi”, katanya menambahkan. Bapak Saverius Uropmabin juga berpesan agar bantuan kepada Ap Iwol dijadikan sebagai program rutin dan berkelanjutan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata siapa pun Kepala Dinasnya. Harapan itu bukan tanpa alas an karena, menurutnya, bantuan itu akan menggugah hati masyarakat adat untuk peduli pada dirinya dengan melestarikan kearifan lokal yang dimilikinya. Persoalan yang perlu dibenahi adalah pendampingan dan pemberdayaan terhadap seluruh komponen Ap Iwol, khususnya sumber daya manusianya. (Sostenes Uropmabin